Monday, December 14, 2009

Akhirnya hanya kematian...

Hari ini aku sedih sekali.

Tadi siang, seorang mahasiswa mendatangiku, menyodorkan surat pengunduran diri. Tentu aku tidak langsung menandatangani surat itu, aku perlu berbincang dengannya.

"Kenapa mengundurkan diri?"

"Saya sudah tidak punya kemauan untuk kuliah."

Well, pernyataan itu tidak mengagetkanku. Mungkin separuh dari mahasiswaku memang sudah tidak punya lagi niat untuk kuliah. Bukan jawaban itu yang mengiris hatiku. Kami ngobrol lagi...

"Setelah keluar dari kuliah, apa rencanamu?"

"Nggak ada.."

Aku tertegun. Oke, ini bukan pertama kalinya aku menghadapi mahasiswa yang mau mengundurkan diri dari kuliah. Tapi ini untuk pertama kalinya aku menghadapi mahasiswa yang tidak punya rencana apapun untuk masa depannya. Selama ini, mahasiswa yang mau mengundurkan diri setidaknya punya rencana untuk transfer jurusan atau universitas, kerja, pindah kota, dan alasan lain semacam itu. Mendengar jawabannya, aku semakin tertarik untuk mengoreknya.

"Kalau hari ini saya menandatangani surat ini, apa yang akan kamu lakukan besok?"

"Hidup, ikuti arus, bukan menentang arus..."

"Kenapa ikut arus?"

"Karena bagiku hidupku cuma akan berakhir di satu titik. Buat apa susah-susah?"

"Dan titik itu?"

"Kematian..selesai! Case closed!"

"Setelah itu?"

"Nggak ada manusia yang bisa memastikan apa yang terjadi setelah itu."

"Manusia nggak bisa, tapi ada satu yang bisa."

Dia diam, hanya tersenyum kosong...

Aku mulai mengerti, sepertinya topik iman, kepercayaan, harapan, bukan topik yang menarik buatnya. Aku mengalihkan topik pembicaraan, aku bertanya tentang keluarganya, hidupnya...

"Aku nggak mau mengemis untuk hidupku. Aku akan berusaha mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi tidak dengan meminta atau mengemis."

"Kamu tahu bahwa ada satu hal yang tidak layak kita dapatkan, tapi diberikan pada kita? Bahkan tanpa kita memintanya?"

Dia mengangkat alis...

"That's called GRACE."

Dia terdiam sejenak....

"Kamu percaya itu?"

"Nggak!"

Aku terbelalak...

"Jadi, selama kamu hidup 21 tahun ini, jatuh bangun...apa kamu tidak merasa hidupmu adalah anugerah?"

"Nggak. Hidupku adalah perjuanganku...bukan campur tangan siapapun. Kalau aku bisa hidup sampai sekarang, itu usahaku. Anugerah itu nggak ada. Buat apa berpegang pada sesuatu yang tidak kelihatan?"

"Memang bukan kamu yang berpegang, tapi kamu yang dipegang."

Dia tertawa, sambil menggelengkan kepala.

"Kita beda dalam hal ini, Miss. Dan kita tidak akan menemukan titik temu."

Aku terdiam, menghela nafas. Aku shock, hatiku perih.

Pemuda yang duduk di depanku ini terlihat kuat, gagah, tegar. Melihat tawanya yang lebar, orang dia terlihat tak punya masalah. Tapi bagiku, dia bermasalah! Dan masalah yang dimilikinya adalah masalah terbesar manusia, dari dulu, sekarang, dan selamanya.

Aku masih berbicara beberapa saat dengannya, tapi keputusannya tidak berubah. Aku menyuruhnya pulang lagi, membawa surat pengunduran dirinya.

"Kamu bawa lagi, kamu pikirkan lagi. Sementara itu, saya akan berdoa buat kamu."

Dia tersenyum, lalu pamit pulang.

Hatiku teriris. Ada berapa orang lagi, di luar sana, yang belum mengenal anugerah, menolak anugerah, tidak ambil pusing dengan anugerah. Berapa orang lagi (setidaknya di antara mahasiswaku), yang hidup tanpa tujuan, hanya ikut arus, dan berpikir hidupnya hanya berakhir pada kematian?

Ini salah satu pe-erku. Mungkin untuk melihat fakta inilah Tuhan menempatkanku di sini.

Everyday they pass me by
I can see it in their eyes
Empty people filled with care
Headed who knows where
On they go through private pair
Living fear to fear
Laughter hides their silent cries
Only Jesus hears
Chorus:
People need the Lord
People need the Lord
At the end of broken dreams
He's the open door
People need the Lord
People need the Lord
When will they realize
People need the Lord
We are called to take His light
To a world where wrong seems right
What could be too great a cost for
Sharing life with one who's lost
Through His love our hearts can feel
All the grief they bear
They must hear the words of life
Only we can share
-Chorus-

5 comments:

ValenCIA said...
This comment has been removed by the author.
ValenCIA said...
This comment has been removed by the author.
ValenCIA said...

.... merinding pas baca ini.. apa karena saya bisa membayangkan situasinya ya? (karena tau anaknya, btw dia salah satu mahasiswa kelas saya waktu sy jadi asdos dulu)..
dan sedih jg rasanya ya miss.. tau ada kejadian seperti itu.. pada orang2 yang beredar di sekitar kita..
dan ketika kita merasa g bisa berbuat apa2..
ato g (pernah) mau berbuat apa2...

ValenCIA said...

*btw itu valen.. pake account blog lain

Alderina said...

*celingukan*

semakin banyak ketawa, semakin banyak kepedihannya.

kalau ketawanya normal, biasanya ya baik-baik saja.

Doakan saya juga ya miss :D Siapa tahu dapat insight buat saya jga :P