Friday, March 19, 2010

Inilah realita kehidupan

Hari ini aku melihat,
seorang ayah berjuang demi putranya.
Bertaruh harga diri dan reputasi.

Hari ini aku melihat,
seorang guru yang mau menyelesaikan tanggungjawabnya.
Melanjutkan kesabaran dan dedikasi sampai garis finish.

Hari ini aku melihat,
seorang pemimpin yang menghadapi dilema.
Keputusan harus dibuat, meski itu simalakama.

Hari ini aku melihat,
seorang anak duduk santai.
Nikmat merokok.

-180310-


Bukan aku, tapi DIA




Kalau hari ini aku menangis,
itu tandanya Tuhan masih sayang padaku.

Kalau hari ini aku merasa tak berdaya,
itu tandanya Tuhan tunjukkan SIAPA yang berkuasa.

Kalau hari ini aku tertekan,
itu tandanya Tuhan sedang mengajarku.

Kalau hari ini aku kecewa pada sekelilingku,
itu tandanya Tuhan tetap setia.

Kalau hari ini rasanya tak ada jalan keluar,
itu tandanya Tuhan mendidikku untuk berpikir.

Kalau esok tetap tak ada jalan keluar,
itu tandanya Tuhan menyadarkanku,
ada rencanaNya yang lebih indah.

Kalau hari ini aku merasa sendiri,
itu tandanya Tuhan menarikku untuk mendekat.

Hari ini aku tahu,
semuanya bukan tentang aku, tapi tentang DIA.
-180310-



Monday, March 15, 2010

Ini laguku, kalau kamu?


Kupu-kupu yang lucu,

ke mana engkau terbang?

Hilir mudik mencari bunga-bunga yang kembang....


-----


Memandang alam dari atas bukit,

sejauh pandang kulepaskan.

Sungai tampak berliku,

sawah luas terbentang.

Bagai permadani di kaki langit.


-----


O Amelia, gadis cilik lincah nian

Tak pernah sedih riang slalu spanjang hari..


----


Aku rindu lagu-lagu itu.

Dulu waktu kecil aku sering menyanyikan lagu-lagu itu.


Kalau sekarang?

Hampir tak pernah lagi aku mendengar anak-anak melantunkannya.
Mereka sibuk menghafalkan dan menyanyikan lagu-lagu cinta yang tak jelas ujung pangkalnya.
:(


Thursday, March 4, 2010

Do you know that...







Monday, March 1, 2010

...and the rain (still) drops!


Beberapa hari ini, cuaca di Surabaya cukup unik.

Panas terik menyengat dari pagi hingga siang.

Menjelang sore (sekitar pukul 15.00), warna langit mulai berubah.

Cuaca cerah berganti kelabu. Awan mendung menggulung dan menyapu langit putih.

Tak lama kemudian gerimis mulai menitik. Tak jarang hujan disertai angin kencang langsung menyambut.


Perubahan cuaca yang drastis itu juga kualami kemarin sore.

Sepanjang hari cuaca sangat cerah, bahkan cenderung gerah.

Menjelang pukul tiga sore, cuaca mulai berubah.

Guntur mulai menggelegar dengan gagahnya. Dan, turunlah titik demi titik air hujan.

Aku terduduk lesu. Kupandangi diriku yang sudah rapi, siap berangkat ke gereja.

Kubayangkan diriku harus menerjang derasnya hujan. Dengan sepeda motor, tentu satu-satunya perlindungan hanyalah jas hujan *yang masih bisa ditembus oleh hempasan angin*.


Aku mulai berdoa, "Tuhan, tolong buat hujannya reda..."

Dan, hujan masih terus menetes.

Aku berdoa lagi, "Tuhan, tolong supaya hujannya reda..."

Angin masih menderu di luar sana.

Aku kembali berdoa, disertai sedikit protes, "Tuhan, tolonglah...aku kan mau ke gereja."

Tapi air hujan masih terus membasahi bumi dan guntur masih bertalu-talu.


"Tuhan, kenapa hujan turun sekarang? Seandainya turun tadi pagi atau tadi siang kan lebih baik.

Kenapa justru hujan saat aku mau ke gereja? Perjalananku bakal sulit kalau hujan...

Ayolah Tuhan, buat hujannya reda ya...Aku toh mau ke gereja, bukan ke mall atau jalan-jalan."


Lama aku berkutat dengan 'permohonanku' itu. Berharap ada keajaiban, berharap Tuhan iba terhadapku, dan mengabulkan 'rayuanku'.


Tapi hujan terus turun, bahkan semakin deras.

Aku menghela nafas...Ok, doaku sama sekali tak mempan!

Kembali aku merenung....sekaligus tertegun!


Beginilah aku, beginilah manusia.

Saat meminta, selalu ingin dikabulkan.

Bahkan, aku sering merasa lebih pintar dari Tuhan, sering mengajari Tuhan.

"Tuhan, aku minta ini ya...ini yang paling baik untukku."

"Tidak Tuhan, jangan yang itu, yang begini yang lebih baik."

Lalu saat permintaan-permintaan itu tak terkabul, aku sedih, aku kecewa.


Padahal, siapa aku, sehingga aku berani merasa lebih pintar dari Tuhan?

Siapa aku, sehingga aku menuntut Tuhan untuk selalu menuruti permintaanku?

Siapa aku, sehingga aku merasa paling tahu apa yang terbaik untukku?

Siapa aku, sehingga aku merasa berhak memprotes Tuhan?


Bukankah Dia Allah yang berdaulat atas alam semesta?

Bukankah Dia Allah yang rencanaNya sudah ada sejak kekal sampai kekal?


Kalau kita menonton sebuah film, kita berhak memprotes jalan ceritanya.

Kita berhak mengkritik endingnya yang menurut kita kurang bagus.

Film digarap oleh manusia. Skripnya ditulis oleh manusia.

Manusia yang terbatas, yang punya banyak kekurangan.

Manusia yang punya banyak motivasi saat membuat sebuah film.


Tapi kalau skenario hidup kita?

Hidup kita tidak dirancang oleh seorang manusia biasa yang terbatas dan penuh kelemahan.

Hidup kita dirancang dan diatur oleh Sutradara Agung yang sempurna!

Hidup kita tidak dirancang dengan plan A, plan B, plan C, dan bisa diubah sewaktu-waktu tergantung sikon.

Hidup kita sudah ditetapkan oleh kedaulatan Tuhan, jauh sebelum kita dilahirkan, bahkan jauh sebelum dunia ini dibentuk.


Jadi, apakah kita berhak protes?

Apakah kita berhak mengatur Tuhan?

Apakah kita berhak menuntut Tuhan mengubah rencanaNya demi keegoisan kita?

SAMA SEKALI TIDAK.


Aku percaya, Tuhan sengaja merancang hidup manusia penuh dengan dinamika.

Ada saatnya cuaca begitu cerah.

Ada saatnya mendung kelabu.

Ada saatnya angin berhembus sepoi-sepoi, sejuk dan nyaman.

Ada saatnya badai dan angin ribut menerpa.

Yang pasti, hidup sudah dirancang sesuai dengan skenarioNya, bukan keinginan kita.


Ada saatnya badai reda, tapi ada saatnya hujan terus menetes.

RencanaNya tidak bergantung pada permintaan kita.

KehendakNya tidak bergantung pada rengekan kita.

Tapi satu hal yang pasti, Dia merancangkan semuanya untuk kebaikan.

Entah di saat badai atau cerah, di saat sejuk atau hujan, Dia adalah Allah yang setia dan adil.



Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN,

yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan,

untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

-Yer 29:11-



Tuesday, February 23, 2010

4 years togetherness

Today is our 4th anniversary :)


laporan 4th: anton tetap kurus, nita tambah ndut hahaha...

Dan kami merayakannya dengan rasa nyeri di sekujur tubuh akibat kecelakaan kemarin hehehe...(yup, kemarin kami ndlosor dengan sukses akibat mencium sebuah mobil kijang yang ngerem mendadak). So, anniversary kami tahun ini memang extraordinary! Dalam sebulan ini, kami dua kali mengalami special occasion. Yang pertama, awal bulan ini Anton masuk RS karena DB. Then, accident yang kemarin itu. Tapi thank God, kami justru merasa Tuhan mengajar kami banyak hal lewat peristiwa-peristiwa yang mungkin menurut banyak orang dianggap peristiwa buruk.

Empat tahun, mungkin usia yang cukup lama untuk masa pacaran (meski tidak sedikit teman yang pacarannya lebih lama dari kami hehehe...). Sudah banyak juga komentar atau pertanyaan di sana-sini, "Kapan undangannya?"

Well, tenang sajalah..undangan itu tidak akan datang dalam waktu dekat (jadi kalian masih bisa mengumpulkan lebih banyak angpao untuk kami). Masih banyak hal yang harus kami selesaikan sebelum masuk ke jenjang yang lebih jauh lagi. Mengutip kalimat Pdt. DR. Stephen Tong, "Lebih baik terlambat menikah, daripada salah menikah." Hohoho...jadi kami nggak terburu-buru, meski usia sudah menjelang kepala tiga (ups, buka rahasia!!).

Berpacaran empat tahun, membuat kami benar-benar sadar bahwa masa pacaran bukan hanya masa senang-senang. Malah, dalam bulan-bulan terakhir ini kami justru lebih banyak mencicipi pahit getirnya (cieee bahasanya) sebuah hubungan yang serius.

Sudah empat tahun, bukan berarti tidak pernah bertengkar.
Sudah empat tahun, bukan berarti tidak perlu penyesuaian lagi.
Sudah empat tahun, bukan berarti tak ada masalah lagi.
Sudah empat tahun, malah masalahnya semakin besar dan sulit.

Kami terus belajar: pacaran nggak hanya butuh cinta, tapi komitmen.
Kami terus belajar: pacaran nggak hanya penuh tawa, tapi juga air mata.
Kami terus belajar: menyayangi seseorang membutuhkan banyak pengorbanan.
Kami terus belajar: banyak kesulitan tidak melemahkan, tapi justru memperkuat kami.

Dua tahun ini, target kami cukup besar.
Menyelesaikan S2...
Mempersiapkan 'next step' secara mental maupun finansial (kami bertekad untuk tidak menggantungkan diri pada ortu a.k.a mandiri).

Berat? Pasti!
Sukar? Jelas!
Ngeri? Hahaha...Iya!
Putus asa? Tentu tidak!

Karena kami tahu, dengan SIAPA kami berjalan. Dia yang sudah menyertai kami selama empat tahun ini, akan terus menuntun kami sesuai dengan rencanaNya yang terindah :)

Happy 4th anniversary, Anton Hendrik!
Thanks for being my partner, my beloved, my brother, and my friend (sometimes, my rival hehehe...)
Thank God for giving us a wonderful relationship!
I luv u!


Thursday, February 18, 2010

Hanya lelah


Aku lelah!

Bolehkah aku mengatakannya?

Oh, tidak, tidak!

Aku tidak sedang merengek..

Aku hanya sedang lelah.

Aku lelah dituntut, meski kalian memang berhak menuntutku.

Aku lelah diprotes, meski aku berusaha lakukan yang terbaik.

Aku lelah dituduh, meski kalian merasa layak menuduhku.

Aku lelah tersenyum...

Aku lelah tertawa...

Aku lelah menjawab...

Aku hanya lelah...

Pernahkah kau membawaku dalam doamu?

Pernahkah kau peduli padaku?

Pernahkah kau mengkhawatirkanku?

Pernahkah kau membayangkan jika kau berada di tempatku?

Pernahkah kau menyadari bahwa aku juga seorang manusia biasa?

Tahukah kau betapa aku menyayangimu, meski kau sering berpikir buruk tentangku?

Oooooh, apakah kau sayang padaku?

Aaaah, mungkin aku terlalu lelah...

Semoga esok kutemukan sedikit energi, untuk menghapus rasa lelahku...

Sehingga aku bisa tersenyum lagi padamu...

Bisa tertawa dan menjawab semua tanyamu...

*17022010, 9.30 pm*