Tuesday, August 18, 2009

Love never fails

Let's talk about love, a topic which I rarely talk about ;)

Today, I was very upset to my boyfriend. Some things called pride and envy, made me mad at him. I avoided to talk with him. When he talked to me, I replied idly. Well, he realized my 'bad mood'-mode, and asked me: "What's wrong with you?" And I just give him a short answer: "I'm fine!" --well, i just wondering, why every woman always says that, instead of admit that they mad--

Hmm, shortly..he wanted to discuss about his job. He asked me about my opinion. In my 'bad mood' mode, I answered him with high tones. It didn't sound good at all. I knew that he was hurt by my attitude, but at that time..I didn't care at all!

Until in a moment, I looked at his face, and stucked by his sad and depressed face. Seemed like he said: "Why I can't get comfort, even from my beloved one?" Suddenly a huge guilty feeling slapped me! I regreted my bad attitude. My 'bad mood' mode changed into lovely mode. Then I hug him to comfort him. I felt that he was so happy and grateful for that.I realize that I can't always be a selfish woman, crowned by something called PRIDE. Why I must sulk for something that doesn't important at all? Why does it always difficult for me to lower my pride, and prefer to hurt my beloved, in the name of pride?

But today, thank God, that my love is greater than my pride. I realize that God created a couple so that they may help one another, support and strengthen one another.

Cho, maybe you will never read this note, but now I want to say sorry for my bad attitude this evening...

I luv u..

-August 14, 2009-

Monday, June 1, 2009

In Memoriam: my beloved grandmother

Sabtu kemarin adalah hari yang cukup gelap untuk keluargaku. Nenek, ibu, dan saudara kami tercinta dipanggil Tuhan. Dia adalah nenek dari mamaku. Dia meninggal setelah sekian lama menderita sakit diabetes, dan terakhir stroke menyerangnya. Meski sudah lama dia dalam kondisi sakit, kepergiannya tetap membuat kami semua terpukul..

Sampai sekarang aku masih sedih, dan menangis tiap kali mengingat kenangan-kenangan dengan nenekku. Bukan, bukan aku tidak bisa menerima kepergiannya. Aku yakin, setiap orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, akan kembali ke pangkuanNya ketika orang itu meninggal. Sekarangpun aku yakin, nenek sudah ada bersama Tuhan Yesus, bahagia di surga. Tapi, yang membuat aku selalu menangis tiap kali mengingat dia, adalah sikapku di hari-hari terakhirnya. Aku tidak memberikan perhatian terbaikku kepadanya.

Sebulan terakhir nenek memang sengaja dipindahkan dari rumahnya ke rumahku, supaya dia bisa mendapat perawatan yang lebih baik. Minggu-minggu pertama aku masih sering menyapanya, berbincang bersama. Tapi, dua minggu terakhir, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, sibuk dengan kegiatan-kegiatanku. Setiap hari aku pulang malam, pagi-pagi sudah berangkat. Aku hanya sempat menyapanya untuk pamit berangkat, dan untuk pamit tidur (karena pulang malam, dan sudah terlalu capek). Aku bahkan sempat ngomel ketika sikapnya tidak kooperatif terhadap perawatan kami. Memang, beberapa tahun terakhir ini, nenek menjadi lebih murung dan cenderung fatalis (karena kepingin segera dipanggil Tuhan). Bagiku yang masih muda ini, pikiran-pikiran seperti itu konyol dan justru melemahkan fisik maupun mental. Karena itu, aku sering jengkel ketika sikapnya tidak kooperatif. Sekarang aku menyesal, kenapa waktu itu aku kurang sabar....

Sekarang, setelah nenek sudah tiada, aku hanya bisa mengenang masa-masa yang pernah aku lewati bersamanya. Dulu, ketika aku kecil, aku sekeluarga tinggal bersamanya di rumahnya. Nenek adalah tempat pelarian sekaligus perlindungan saat orangtuaku memarahiku. Setelah kami pindah rumah, kunjungan nenek adalah saat-saat menyenangkan bagi aku dan adik-adikku. Dia sangat memanjakan kami bertiga. Baginya, kami adalah cucu-cucu kesayangan dan kebanggaan. Dia seorang wanita hebat yang jago masak dan menjahit. Mama dan aku sudah mengoleksi tiga buku resep darinya. Baju-baju mamaku di masa mudanya kebanyakan adalah hasil pekerjaan tangannya...Di masa tuanya, ketika aku mulai berpacaran dengan Anton, dan orangtuaku masih belum menyetujui hubungan kami, Nenek adalah orang yang tak pernah berhenti mendukung dan menyemangati kami. Awal tahun 2008, ketika mama sudah menyetujui hubungan kami, Nenek termasuk salah satu orang yang sangat bahagia. Waktu itu sambil berbaring, dia berkata, "Ayo, kapan meritnya? Nanti keburu nenek nggak ada..." Waktu itu aku hanya menyahutinya dengan gurauan..."Ngapain mikir gitu? Masih lama kok, dan pasti nenek masih hidup.." Tapi ternyata kehendak Tuhan memang berbeda..Tuhan memanggilnya sebelum sempat melihat cucunya menikah.

Kemarin, saat kebaktian tutup peti, aku menyanyikan lagu "Di Doa Ibuku". Lagu yang hanya pernah kunyanyikan tiga kali: saat aku wisuda, kebaktian penghiburan omanya Nia, dan kemarin. Aku tak bisa menahan tangisku dalam nyanyianku. Aku sadar, aku menjadi seperti yang sekarang pun, tak lepas dari doa-doanya...Hanya, aku masih menyesali sikap-sikap burukku padanya selama ini..Aku masih merasa belum cukup membalas kasih sayangnya padaku...

Setiap kali aku pulang dan terlalu capek, aku hanya menyapanya sekilas, sambil berpikir, besok aku akan mengajaknya ngobrol. Tapi 'besok' itu selalu tertunda menjadi besoknya lagi, besoknya lagi, sampai...tidak akan pernah ada hari esok untuknya, untuk kami...Sekarang aku sungguh menyesal.. Sepenggal lagu Ronan Keating selalu membuatku teringat padanya, dan membuat air mataku mengalir...So tell that someone that you love. Just what you're thinking of if tomorrow never comes.

So friends, tunjukkan kasih kalian kepada orang-orang yang kalian kasihi, selagi masih ada kesempatan..
Jangan tunda lagi, karena waktu kita sangat terbatas...sebelum semua terlambat dan tidak ada kesempatan lagi...

Goodbye grandma...I just want you to know that I love you so much, though sometimes i didn't show it...thanks for your love, caring, and prayer... Of course, I'm gonna miss you (oh, i miss u already..), but I know that u're saved peacefully in His arms now ..in a place that u won't feel pain anymore..in a place that full of true love and caring...

Wednesday, April 8, 2009

It's all about love. Really??

Beberapa hari yang lalu ada seorang mahasiswi yang menceritakan pergumulannya tentang pasangan hidup. Yah, aku sadar, topik yang satu itu memang salah satu pergumulan terbesar manusia. Bahkan ada yang bilang, "Memutuskan siapa yang akan jadi pasangan hidupmu adalah keputusan terbesar kedua setelah memutuskan untuk terima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat." Awalnya, bagiku kalimat itu agak berlebihan. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, kalimat itu ada benarnya juga. Nggak mungkin kan kita main-main untuk memutuskan siapa pasangan hidup kita?? Kita pasti akan memikirkannya dengan sangat serius, karena itu menyangkut hari depan kita, for the rest of our life!!



Aku bersyukur karena mahasiswi itu sungguh-sungguh memikirkan masalah pasangan hidup ini. Jujur, aku tidak setuju ketika banyak orang bilang, "Ah, ngapain anak-anak muda pusing mikirin pasangan hidupnya? Yang penting have fun aja. Toh kawin juga masih berapa tahun lagi?! Masih banyak waktu!" Bah! saya sama sekali nggak setuju dengan pendapat seperti itu. Akibat pikiran-pikiran seperti itulah yang bikin anak-anak muda zaman sekarang dengan mudah gonta-ganti pacar. Hari ini mabuk cinta sama si A, lusa sudah putus, dan bergandengan dengan si B. Fuuuh....aku sangat prihatin melihat realita seperti itu. Memutuskan untuk pacaran itu kayak memutuskan beli sandal jepit. Nggak perlu repot, yang penting sekarang suka, kalau sudah bosen, ganti yang lain.

Justru dari muda seharusnya kita udah mikir, seperti apa pasangan hidup yang kita harapkan, mulai mendoakan, mulai bertanya sama Tuhan: Tuhan mau aku cari pasangan yang seperti apa? Kalau belum juga dapet, itu mah urusan lain. God has His own time! Yang penting kita terus memperumulkannya, sambil buka mata lebar-lebar, buka pergaulan yang luas (bukan pergaulan bebas!), sambil berserah penuh sama Tuhan.

Sekarang aku jadi teringat dulu sebelum memutuskan untuk pacaran. Waktu itu Anton dan aku sudah saling tahu kalau kami saling menyukai. Tapi kami sama-sama belum berani mengambil keputusan untuk pacaran. Kami sudah cukup saling kenal waktu itu (cukup, untuk ukuran masa pedekate). Tapi masih ada beberapa hal prinsip dan penting yang kami belum saling tahu. So, waktu itu kami memutuskan untuk saling mengajukan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu akan menjadi pijakan terakhir, sebelum kami memutuskan, akan pacaran atau tidak. Inilah daftar perntanyaan kami waktu itu:
1. Apakah keberadaannya (calon pasangan) membawa aku makin dekat dengan Tuhan?
2. Apakah keberadaannya (calon pasangan) membuatku maksimal dalam pelayanan sekarang?
3. Apakah aku bisa bertahan hidup bersamanya (dalam kondisi apapun) sepanjang umurku?
4. Apakah aku siap menerima dia, seburuk apapun nanti?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tidaklah mudah. Tapi sekarang aku bersyukur, pertanyaan-pertanyaan itu sampai sekarang (dan akan selalu) menjadi dasar komitmen kami. Kalau kami bertengkar, dan seems no way out, kami ingat lagi pertanyaan-pertanyaan itu. Memang pertengakaran nggak langsung beres. Tapi setidaknya kami diingatkan lagi, apa yang sedang kami perjuangkan dan jalani sekarang ini. Kami nggak hanya sedang cinta-cintaan, pacaran, runtang-runtung berdua. Komitmen awal kami mengingatkan: hubungan kami nggak akan selalu penuh bunga, tapi juga banyak duri. Meskipun ada saat hati kami saling berjauhan karena ada masalah, tapi kami percaya ada Tuhan yang selalu mengikat kami. Pacaran, menikah, bukan melulu tentang cinta. Ini tentang melakukan kehendak Tuhan dalam hubungan pacaran kita, dan kelak dalam pernikahan kita.

So, untuk semua yang sudah, sedang, dan akan bergumul tentang ini, jangan sepelekan pergumulan ini. Jangan sia-siakan hidupmu dengan hubungan-hubungan yang nggak jelas. Bersandar dan berserahlah pada Tuhan. Ini soal masa depanmu, seumur hidupmu! God bless u all!

Tuesday, April 7, 2009

Pedulikah mereka?

Sudah lama aku prihatin pada perkembangan musik Indonesia. Beberapa tahun belakangan ini, kualitasnya makin parah saja. Okelah, kalau masalah melodi, teknik bermusik, de el el, biarlah orang yang paham musik saja yang mengkritisi. Aku bukan orang yang tepat untuk memberi komentar soal itu. So, biarlah aku mengomentarinya dari sisi orang awam.

Dulu, saat dengar lagu-lagu besutan penyanyi-penyanyi Indonesia, saya benci, tidak suka, dan risih. Bayangkan saja, siapa yang nggak risih dengan lirik lagu, "Jadikan aku yang kedua."; "Akulah makhluk Tuhan yang paling sexy."; "Cari pacar lagi.", "Kamu di mana, dengan siapa, sedang berbuat apa blabla..", dan masih banyak puluhan, bahkan ratusan lirik lagu yang liriknya sama sekali tidak membangun. Jangankan menikmati, bahkan untuk mendengarpun kalau bisa aku hindari. Tapi ya sejauh itu sih sikapku pada lagu-lagu Indonesia. Aku nggak berpikir tentang efeknya. Lebih tepatnya udah nggak mau mikir efeknya, soalnya aku yakin lagu-lagu itu nggak akan ngefek ke aku. Wong untuk dengerin aja jijik! Apalagi mikirnya! Capek!

Tapi, sebulan terakhir aku mulai berpikir lagi tentang efek negatif lagu-lagu itu. Gara-garanya, bulan lalu aku mengajak Abi *anak Pak Gito yang baru berumur 4 tahun* jalan-jalan. Kami mengunjungi salah satu toko buku terbesar di Surabaya. Kebetulan waktu itu aku juga ada janji dengan dua mahasiswa untuk bimbingan skripsi. So, daripada berlama-lama di toko buku (dan daripada aku gelap mata pada semua buku yang dipajang), aku mengajak Abi ke cafe di lantai dua. Nggak lama setelah pesan makanan, dua mahasiswaku datang. Otomatis aku nggak bisa perhatiin Abi lagi, aku harus konsentrasi bimbingan. Berhubung Anton belum datang, akhirnya aku minta Abi main sendiri dengan buku gambarnya. Aku pinjami dia spidol-spidolku. Tapi yang namanya anak kecil -apalagi yang hiperaktif kayak Abi-, pasti tidak puas mengerjakan satu jenis aktivitas. Akhirnya matanya teralih ke TV yang dipasang di dinding cafe itu. Aku ikut melirik sebentar, oh ternyata sedang tayangan kartun Mr. Bean. Okelah, nggak masalah, nggak terlalu berbahaya. Aku asyik lagi ngobrol dengan mahasiswaku. Nggak lama kemudian, ternyata tayangan Mr. Bean selesai, dan channel TV rupanya diganti. Aku sempat melirik lagi, aduh..konser musik Indonesia. Aku menggerutu pada muridku, "Malese denger lagu-lagu gini!" Mereka tertawa. Tapi ya apa daya, wong bukan di rumahku, jadi ya nggak bisa ganti channel seenaknya. Lagu berikutnya benar-benar membuatku tersentak! Aku nggak tau pasti judul lagunya, tapi yang jelas di liriknya ada kata 'bajingan', dan itu diulang berkali-kali!! Aku jadi bingung melihat ke Abi. Fyi, Abi ini termasuk sangat cerdas untuk anak umur 4 tahun. Salah satu indikasinya, dia cepat menyerap informasi dan mengulang/menirukan informasi itu. Bayangkan!! Kalau dia berkali-kali mendengar kata 'bajingan', tidakkah kata itu lama-lama akan melekat di otaknya?? Memang sih dia belum ngerti arti kata-kata itu, tapi kan tetap aja itu bukan kata-kata yang mendidik?

Sekarang aku jadi berpikir lagi tentang efek lagu-lagu Indonesia, terutama untuk anak-anak kecil. Akan jadi apa mereka, kalau otaknya dipenuhi lirik-lirik lagu macam itu?? Walaupun mereka belum mengerti apa arti kata-katanya, tapi justru di situlah bahayanya. Bayangkan kata-kata *yang bahkan untuk orang dewasa saja nggak layak* meluncur dari bibir anak-anak kecil. Mereka sekadar meniru, menyanyikannya.

Duh aduh, apa artis-artis, pencipta-pencipta lagu itu nggak mikir bahayanya lagu-lagu mereka itu ya???

*jadi inget, di tayangan TV waktu itu, si penyanyi selalu menyodorkan mic ke arah penonton pada saat kata 'bajingan' dinyanyikan. Gosh!!*

Monday, March 23, 2009

Ditegur habis-habisan

Tuhan, kudatang tertunduk malu

Engkau lihat kedalaman hatiku

Inilah aku hambaMu,

namun tujuan hidupku hanya melayani diri sendiri

Sesungguhnya ku hamba dunia,

terpikat oleh kesenangan fana,

akan harta dan kuasa, kebanggaan hati

Bri belas kasihMu, o Tuhan

Murnikanku, tekad di hatiku

Agar ku tersadar, menderita denganMu

Murnikanku, arahkan mata hatiku

Agar ku setia, padaMu...

Lagu ini diciptakan oleh Pak Gito, seorang teman yang juga salah satu hamba Tuhan di gerejaku. Ia memintaku menyanyikan lagu ini di kebaktian minggu lalu, sebagai pengantar khotbahnya. Seperti biasa, ia menceritakan padaku tentang makna lirik dan dinamika nada di lagunya. Ini bukan untuk pertama kalinya aku menyanyikan lagu ciptaannya, dan aku selalu senang tiap diminta menyanyikan lagunya. Selalu ada arti di balik setiap kata maupun nada.

Lagu yang ini pun tercipta sebagai buah dari pergumulannya. “Ini pergumulan pribadiku. Aku menangis waktu menciptakan lagu ini. Sadar kalau semua hal yang aku lakukan, bahkan yang baik sekalipun, belum tentu kulakukan untuk memuliakan Tuhan. Aku lebih sering melakukannya untuk diriku sendiri. Aku ini hamba dari diriku sendiri,” jelasnya panjang lebar. Aku tertegun mendengar ucapannya. Sekali lagi kubaca partitur yang sedang kupegang waktu itu...dan aku merasakan pergumulan yang sama. Hati yang tidak murni, kepalsuan jiwa...Sayang, setelah pelayanan di kebaktian itu, aku kembali terseret pada kesibukan kantor. Perenungan akan lirik lagu itu pun menguap. Aku tenggelam dalam rutinitasku.

Akhirnya Minggu siang kemarin, aku punya cukup banyak waktu untuk merenung. Lirik dan melodi lagu itu kembali mengusikku. Tanpa kusadari, aku menangis...tersedu-sedu. Aku tertampar oleh lirik lagu itu. Aku kembali ditegur, betapa tidak murninya hidupku selama ini. Sekalipun aku tidak membuat kesalahan, meskipun aku berusaha melakukan hal-hal baik (bahkan terbaik menurutku), aku melakukannya untuk siapa? Untuk pujian? Untuk sanjungan? Untuk kepentinganku sendiri? Atau untuk Penciptaku, Penebusku? Terngiang kembali khotbah Pak Gito minggu lalu, “Orang yang melakukan kebaikan dengan motif yang tidak murni, jauh lebih jahat dari seorang penjahat.” Mengingat kalimat itu, aku sadar, aku telah menjadi lebih jahat dari seorang penjahat.

Sorenya, di kebaktian, Pdt. Andi Halim –gembala sidangku- melanjutkan khotbahnya dari Mazmur 73:1-3. Ternyata Tuhan begitu baik. Ia kembali menegurku. “Pemazmur sadar, Tuhan itu baik bagi orang yang murni hatinya. Tapi di ayat kedua, pemazmur mengatakan bahwa ia nyaris terpeleset.” Sekali lagi aku tertampar. Saat ini, aku sudah ada di posisi yang sama dengan pemazmur: nyaris terpeleset. Aku hampir kehilangan arah, dan berjalan semakin melenceng dari apa yang Tuhan kehendaki.

Semakin aku mendengarkan khotbah kemarin, semakin aku merasa, Tuhan sedang mengarahkan kembali mata hatiku kepadaNya. Ia sedang menarik aku kembali. Satu lagi kalimat Pak Andi yang sangat menguatkanku, “Tuhan tidak melihat manusia dari target yang sudah dicapainya. Tuhan melihat respon manusia atas tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepadanya.” Aku tertampar –entah untuk keberapa kalinya- oleh kalimat itu. Target! Itulah salah satu penyebab kelelahan dan kekacauanku selama ini. Aku, seperti si pemazmur, tergoda untuk melihat orang lain, membandingkan diri dengan orang lain, memasang target berdasarkan keberhasilan orang lain. Aku -seperti lirik lagu Pak Gito- sudah terjerat oleh kebanggaan dan kesuksesan fana. Pak Andi menguraikan sedikit tentang perumpamaan talenta. Orang yang diberi lima talenta dan dua talenta sama-sama dipuji tuannya, karena mengerjakan tanggung jawab mereka dengan baik. Bukan jumlah talenta yang diperhitungkan, tapi respon terhadap tanggung jawab yang diberikan, itulah yang dinilai.

Oh Tuhan...aku benar-benar malu..Aku sudah terlalu lama disetir oleh motivasi-motivasi yang salah. Hampir terseret ke arah yang salah. Selama ini, aku sepertinya sudah banyak melakukan hal-hal baik, selalu berusaha mengerjakan segala sesuatu sebaik mungkin. Tapi itu semua ternyata berujung pada diri sendiri.

Tuhan, aku bersyukur Engkau mengingatkanku..Aku bertekad untuk kembali ke arah yang semula. Berjalan di atas rel yang Kaubuat. Aku tahu, pergumulanku melawan diri sendiri tidaklah mudah. Aku tahu, kondisi lingkungan juga tidak akan mendukungku. Tarikan ke arah yang salah itu akan terasa sangat kuat. Tapi Tuhan, dengan rendah hati aku terus meminta: Murnikanku...arahkan mata hatiku kepadaMu. Hanya Engkau yang bisa menjaga langkahku...agar tetap berjalan di jalanMu...








Thursday, March 19, 2009

3.3.3

Barusan waktu buka blog, tanpa sengaja mataku menangkap tulisan di daisypath'ku. We have been together for 3 years, 3 weeks, and 3 days. Wow!! Hehehe...nggak sadar, ternyata kami sudah bersama selama 3 tahun, 3 minggu, dan 3 hari. Bukan waktu yang singkat, tapi juga belum lama-lama amat (dibanding temenku yang pacaran 11 tahun sebelum akhirnya married hehehe...).


Hm...diriku jadi mengingat-ingat lagi semua momen yang pernah kami lewati bersama (boleh dong sekali-kali saya jadi sentimentil). Dua hari lalu, kami bertengkar hebat (thank God, sekarang sudah baikan). Seperti biasa, akulah pihak yang emosional. Dulu, waktu kami baru jadian beberapa minggu, banyak yang terheran-heran..kok bisa kami jadian?!

Well, sebenarnya bukan hanya orang lain yang kaget. Aku, sampai sekarang pun masih sering takjub, bagaimana bisa seorang Anton dan Nita jadian. We are totally different! Dulu, sebelum pacaran, aku melihat Anton sebagai sosok yang super diam, tenang, bahkan cenderung dingin. Sedangkan diriku? Cerewet, gampang gupuh, dan meledak-ledak. Ah, itu baru satu poin saja...masih banyak perbedaan lain -yang sama sekali tidak terpikirkan untuk bisa disatukan-.

Sekarang, tiga tahun sudah berjalan..Mau tak mau, ada banyak perubahan yang terjadi. Anton ternyata bisa juga jadi manusia yang rame (meskipun kadang cenderung jayus..hehehe...-peace, cho!-). Nita ternyata bisa juga jadi makhluk yang adem hehehe...

Semua perubahan dan penyesuaian itu tentu tidak terjadi begitu saja. Banyak sekali momen-momen, yang waktu itu terasa begitu menyakitkan. Banyak sekali saat-saat kami (terutama aku) menjadi putus asa dan berpikir, "Bisakah ini dilanjutkan? Sampai kapan kami bisa bertahan?" Anton dan aku bukan orang yang gampang mengalah, sama-sama gengsian (gosh! kesamaan yang justru sering menyulitkan hehehe..). So, bisa dibayangkan...pertengkaran-pertengkaran kami sering dilatarbelakangi lagu "Hard to Say I'm Sorry".

Perjalanan kami selama ini memang tidak selalu mulus. Ada banyak rintangan di sana-sini. Tapi toh, kami masih bisa bertahan. Kalau dipikir secara logis, itu sebenarnya nonsense! Justru kenyataan inilah yang membuatku makin sadar. Kalau kami bisa bertahan, itu semua karena kasih karunia Tuhan. Jujur, kalau kami hanya berjalan berdua, kami pasti sudah lama hancur, hubungan ini pasti sudah lama kandas.

So, at this moment..I'd like to say thanks to You, Lord..
Thanks for everything You've done for us in this three wonderful years..
Dear cho, thanks for loving me just the way I am...

Tuesday, March 17, 2009

Bingung milih siapa???

Hal pertama yang ingin ditulis tentu saja permintaan maaf karena sudah cukup lama menghilang (sebulan lebih hehehe....). Maklum, otak lagi dipenuhi berbagai huru-hara. Bulan lalu musim PRS (pendaftaran rencana studi), trus masa kuliah udah mulai aktif...then, disusul segala keruwetan plus keasyikan ngurusi Journalism Clinic. Jadilah blog ini merana karena ditinggal dengan sengaja oleh pemiliknya.

Nah, sekarang masuk ke topik utama! Tentunya teman-teman sudah tidak asing dengan pemandangan di jalan-jalan beberapa bulan terakhir ini. Yup! Spanduk, poster, dan stiker yang berjejer (tanpa aturan) di sepanjang jalan raya. Terpampang wajah-wajah tak dikenal, dengan lambang partai, nomor pilih, dan slogan-slogan yang terkesan menjanjikan. Tapi jujur saja, sampai sekarang...ketika Pemilu Legislatif sudah di depan mata (tiga minggu lagi!), saya masih tak bisa mengingat nama caleg, partai, dan nomornya. Saya jadi bingung, mau milih siapa tanggal 9 April nanti? Bukannya saya nggak mau milih. Saya mau menggunakan hak suara saya. Tapi gimana mau milih, kalau calonnya saja saya tak ingat. Dan bukannya saya tak mau mengingat, cuman memang nggak bisa ingat!!! Di mana-mana wajah-wajah asing terpampang. Dari mana asalnya kita juga tak tahu. Yang bisa dibaca hanyalah pengakuan dan slogan mereka di spanduk atau poster. Itupun tak bisa dijamin kebenarannya kan? Ada yang mengaku asli daerah A, padahal orang-orang daerah A sama sekali tidak merasa mengenal si caleg. Yang paling konyol, minggu lalu aku sempat dengerin Suara Surabaya. Ternyata, untuk menentukan siapa jadi caleg dapil (daerah pilih) mana itu tergantung: UNDIAN!!! Gosh!! Glegarrrr (pinjem istilahnya J).

Nah, sekarang balik lagi ke jumlah caleg yang tak terhitung (karena males ngitung). Kalau yang masih muda dan sehat seperti saya saja tidak bisa mengingat, apalagi warga negara yang udah sepuh?? Mana bisa mereka menjalankan hak pilihnya dengan baik? Partainya segudang (kayaknya Indonesia adalah negara dengan parpol terbanyak sedunia - belum ngecek data sih), calegnya selaut...Gimana milihnya??

Atau...jangan-jangan...memang ada konspirasi tersembunyi yang sengaja membuat warganya banyak yang golput??? Hmm....(garuk-garuk...mikir...)...