Tuesday, February 23, 2010

4 years togetherness

Today is our 4th anniversary :)


laporan 4th: anton tetap kurus, nita tambah ndut hahaha...

Dan kami merayakannya dengan rasa nyeri di sekujur tubuh akibat kecelakaan kemarin hehehe...(yup, kemarin kami ndlosor dengan sukses akibat mencium sebuah mobil kijang yang ngerem mendadak). So, anniversary kami tahun ini memang extraordinary! Dalam sebulan ini, kami dua kali mengalami special occasion. Yang pertama, awal bulan ini Anton masuk RS karena DB. Then, accident yang kemarin itu. Tapi thank God, kami justru merasa Tuhan mengajar kami banyak hal lewat peristiwa-peristiwa yang mungkin menurut banyak orang dianggap peristiwa buruk.

Empat tahun, mungkin usia yang cukup lama untuk masa pacaran (meski tidak sedikit teman yang pacarannya lebih lama dari kami hehehe...). Sudah banyak juga komentar atau pertanyaan di sana-sini, "Kapan undangannya?"

Well, tenang sajalah..undangan itu tidak akan datang dalam waktu dekat (jadi kalian masih bisa mengumpulkan lebih banyak angpao untuk kami). Masih banyak hal yang harus kami selesaikan sebelum masuk ke jenjang yang lebih jauh lagi. Mengutip kalimat Pdt. DR. Stephen Tong, "Lebih baik terlambat menikah, daripada salah menikah." Hohoho...jadi kami nggak terburu-buru, meski usia sudah menjelang kepala tiga (ups, buka rahasia!!).

Berpacaran empat tahun, membuat kami benar-benar sadar bahwa masa pacaran bukan hanya masa senang-senang. Malah, dalam bulan-bulan terakhir ini kami justru lebih banyak mencicipi pahit getirnya (cieee bahasanya) sebuah hubungan yang serius.

Sudah empat tahun, bukan berarti tidak pernah bertengkar.
Sudah empat tahun, bukan berarti tidak perlu penyesuaian lagi.
Sudah empat tahun, bukan berarti tak ada masalah lagi.
Sudah empat tahun, malah masalahnya semakin besar dan sulit.

Kami terus belajar: pacaran nggak hanya butuh cinta, tapi komitmen.
Kami terus belajar: pacaran nggak hanya penuh tawa, tapi juga air mata.
Kami terus belajar: menyayangi seseorang membutuhkan banyak pengorbanan.
Kami terus belajar: banyak kesulitan tidak melemahkan, tapi justru memperkuat kami.

Dua tahun ini, target kami cukup besar.
Menyelesaikan S2...
Mempersiapkan 'next step' secara mental maupun finansial (kami bertekad untuk tidak menggantungkan diri pada ortu a.k.a mandiri).

Berat? Pasti!
Sukar? Jelas!
Ngeri? Hahaha...Iya!
Putus asa? Tentu tidak!

Karena kami tahu, dengan SIAPA kami berjalan. Dia yang sudah menyertai kami selama empat tahun ini, akan terus menuntun kami sesuai dengan rencanaNya yang terindah :)

Happy 4th anniversary, Anton Hendrik!
Thanks for being my partner, my beloved, my brother, and my friend (sometimes, my rival hehehe...)
Thank God for giving us a wonderful relationship!
I luv u!


Thursday, February 18, 2010

Hanya lelah


Aku lelah!

Bolehkah aku mengatakannya?

Oh, tidak, tidak!

Aku tidak sedang merengek..

Aku hanya sedang lelah.

Aku lelah dituntut, meski kalian memang berhak menuntutku.

Aku lelah diprotes, meski aku berusaha lakukan yang terbaik.

Aku lelah dituduh, meski kalian merasa layak menuduhku.

Aku lelah tersenyum...

Aku lelah tertawa...

Aku lelah menjawab...

Aku hanya lelah...

Pernahkah kau membawaku dalam doamu?

Pernahkah kau peduli padaku?

Pernahkah kau mengkhawatirkanku?

Pernahkah kau membayangkan jika kau berada di tempatku?

Pernahkah kau menyadari bahwa aku juga seorang manusia biasa?

Tahukah kau betapa aku menyayangimu, meski kau sering berpikir buruk tentangku?

Oooooh, apakah kau sayang padaku?

Aaaah, mungkin aku terlalu lelah...

Semoga esok kutemukan sedikit energi, untuk menghapus rasa lelahku...

Sehingga aku bisa tersenyum lagi padamu...

Bisa tertawa dan menjawab semua tanyamu...

*17022010, 9.30 pm*


Thursday, February 11, 2010

Uneg-uneg terpendam

Sudah lama aku ingin mengeluarkan uneg-unegku tentang masalah ini. Tentang sebuah lembaga pendidikan berlabel Kristen, berisi orang-orang dengan agama Kristen, tapi di dalamnya sungguh tidak mencerminkan kekristenan sama sekali! -Tidak, tidak...aku tidak sedang membicarakan institusi tempat aku bekerja (meskipun aku bekerja di lembaga Kristen juga). Aku sedang meluapkan kekesalanku tentang sebuah instistusi Kristen lain yang aku kenal- Penuh tipu muslihat, sangat tidak manusiawi, dan penuh dengan orang-orang yang berlagak pandai, tapi sebetulnya tidak!!

Oooh...memang sudah lama (atau bahkan belum pernah) menulis uneg-uneg sekeras ini. Tapi kali ini memang sudah di luar batas kesabaranku.

Institusi ini ya...sama sekali tidak keberatan (bahkan menyuruh) pegawainya untuk melakukan rekayasa data. Institusi ini selalu berusaha keras untuk menjalankan prinsip ekonomi (=memanfaatkan/mengeksploitasi stafnya semaksimal mungkin dan mengeluarkan cost sekecil mungkin untuk mereka). Sungguh suatu ironi untuk sebuah lembaga besar yang terkenal dan punya misi mendidik siswanya dengan Christian value! Aku hanya berpikir, kalau internal mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Christian value, so how could they teach their students about Christian value?? -Ini juga salah satu bahan evaluasi pribadi: Do I have and do Christian value in my life before I teach about it to my students?-

Tidak hanya itu, perlakuan bos di institusi Kristen ini pada stafnya juga bisa dibilang jauh dari nilai-nilai Kristen. Si bos adalah orang yang sangat senang jika bisa menemukan kesalahan stafnya dan memberikan hukuman. Kalau ada masalah yang terjadi, hal pertama yang dicari adalah: "Siapa tersangkanya??", dan bukan solusi dan bagaimana mengantisipasi masalah tersebut di kemudian hari. Kalau yang bersalah sudah ketemu, langkah selanjutnya adalah memberinya hukuman. Jadi solusinya apa? Ya hukuman itulah solusinya, sehingga si staf jera dan tidak mengulangi lagi kesalahannya! Luar biasa kan?!

Aaaarrrgh...kalau dituliskan semua, bisa habis waktuku hanya untuk mengetik semua uneg-unegku. Jadi sebaiknya aku berhenti di sini saja. Yang jelas, aku ingin sekali berhadapan muka dengan para bos di institusi ini dan mengungkapkan tulisanku ini kepada mereka. Aku tidak terlalu peduli, bagaimana respon mereka. Concernku hanya untuk siswa-siswa mereka...bagaimanakah nasib mereka jika dididik dalam institusi yang dikelola orang-orang seperti itu?


Friday, January 15, 2010

Lessons I Learnt (Part 2)

Every promise we can make,

every prayer and step of faith


Every diff'rence we will make

is only by His grace

Every mountain we will climb, every ray of hope we shine


Every blessing left behind is only by His grace



Beberapa lalu aku sempat merenung, menyempatkan diri untuk berdiam diri. Perlahan ingatanku melayang ke masa lalu: seperti apa aku dulu; apa saja yang sudah aku capai, dan apa yang gagal aku lakukan; apa yang membuatku bahagia, apa yang membuatku sedih...


Setelah menoleh ke belakang, akhirnya aku sampai pada satu titik yang sebetulnya tak pernah berubah: aku menyadari bahwa seluruh hidupku adalah ANUGERAH. Segala hal yang terjadi dalam hidupku -buruk atau baik- adalah ANUGERAH. Tak ada satupun titik dalam perjalanan hidupku yang bisa terjadi tanpa Tuhan. Bukan karena aku mampu, bukan karena aku hebat. Aku punya segudang kelemahan, segudang keburukan, dan segudang kejelekan. Sampai saat inipun aku bukan manusia sempurna, tapi aku bersyukur karena semua hal dalam hidupku adalah rancangan Tuhan yang indah dan luar biasa.


Grace alone which God supplies


Strength unknown He will provide


Christ in us, our Cornerstone


We will go forth in grace alone


Monday, December 28, 2009

Lessons I learnt (Part 1)

Time flies so fast!

Tahun 2009 sudah tinggal beberapa hari...

Waktu juga berjalan cepat, untuk umurku :) Sudah seperempat abad lebih satu tahun hehehe..
Setahun ini, banyak hal yang kualami. Tapi kurasa aku hanya akan men-sharing-kan beberapa saja.



Lesson 1: RencanaNya bukan rencanaku
Awal tahun lalu, bahkan sampai dua bulan lalu salah satu fokus pikiranku adalah: STUDI LANJUT. Ya, sebagai seorang dosen, aku punya kewajiban sekaligus kesempatan untuk studi lanjut. Karena aku masih belum menikah, tentu aku memilih untuk studi di luar negeri. Belajar di luar negeri, itu angan-anganku sejak dulu. Saat melihat foto atau mendengar kabar teman-temanku yang sekolah di luar negeri, aku selalu berharap supaya suatu saat aku punya kesempatan seperti mereka. Sekarang kesempatan itu terbuka lebar di depan mata. Aku senang sekali. Aku pun mulai menyusun puzzle masa depanku.

Berbagai persiapan mulai kulakukan. Selain cari info sekolah dan tes TOEFL, aku juga mulai mempersiapkan hati. Maklum, sekolah di luar negeri berarti akan berpisah dengan semua orang yang kusayangi di sini. Buat aku yang belum pernah menetap di luar Surabaya, tentu itu tidak mudah. Risiko long distance relationship dengan pacar pun sudah mulai dibicarakan. Berbagai strategi komunikasi supaya hubungan kami tetap lancar juga sudah direncanakan (maklum, orang komunikasi hehehe...). Pokoknya tinggal beberapa langkah, impianku untuk menuntut ilmu di negeri orang akan tercapai.

Sampai suatu hari...sebuah pertanyaan mengejutkan mengusik rencana-rencana masa depanku. Pertanyaan itu adalah apakah aku bersedia dicalonkan untuk menjadi ketua jurusan (kajur)? Begitu pertanyaan itu dilontarkan, seolah ada sesuatu yang memorakporandakan puzzle yang sedang kususun. “Aku...aku mau sekolah!” Aku masih ingat jelas kalimat pertama yang keluar dari mulutku waktu itu. Aku tahu, di UK Petra, kalau seseorang memegang jabatan sambil studi lanjut, maka studi lanjutnya harus di dalam kota.

Lagipula, aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang kajur! Bagiku, menjadi sekjur itu sudah melebihi bayanganku waktu aku melamar di UK Petra. Tak punya bayangan, tak punya kemampuan, dan di atas semua itu: aku ingin sekolah, DI LUAR NEGERI. Seperti teman-teman dosen lain, yang punya kesempatan menimba ilmu di luar sana.

Hari demi hari berlalu, aku berharap pertanyaan tadi hanya sebuah mimpi. Tapi apa daya, pertanyaan itu serius, dan jawabanku juga ditunggu. Aku mulai menjerit kepada Tuhan. “Tuhan, ini apa? Kenapa tiba-tiba ada hal seperti ini? Tuhan aku pingin sekolah di luar, itu impianku...” Aku menangis saat membayangkan susunan puzzle yang tinggal beberapa piece saja.

Saat itu pertanyaan lain diajukan kepadaku. Pacarku sendiri yang menanyakannya.

“Apa tujuanmu sekolah di luar negeri?”

Aku heran mendengar pertanyaan itu. Such a stupid question!

“Ya untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi, aku kan dosen? Dosen kan minimal S2.”
“Kenapa harus di luar negeri?”
“Ya kan kalau lulusan luar negeri ilmunya lebih banyak dan luas.”
“Selain itu?”

Pertanyaan itu bagaikan godam. Sesaat aku terdiam.
“Karena itu impianku...”
“Dengan sekolah di luar negeri, apa visi Tuhan untukmu?”

Aku terdiam lagi....Sekolah di luar negeri itu angan-anganku, impianku. Lebih jelas lagi? AMBISIKU, OBSESIKU!!! Kalau ditanya tentang visi Tuhan, tentu aku tidak bisa menjawabnya. Wong jelas ini visi pribadiku.

Singkat kata, setelah melalui proses pergumulan yang cukup panjang dan sulit (untukku), aku menyanggupi pencalonan itu. Dan di sinilah aku sekarang. Menjadi seorang Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi. Bukan menjadi calon mahasiswa Hong Kong Baptist University, seperti impianku beberapa bulan lalu.

Satu hal terbesar yang kupelajari dari proses ini: ALLAH sungguh BERDAULAT. Aku yakin, tak seorangpun di sekitarku -bahkan aku sendiri- yang pernah membayangkan aku akan tetap ada di Indonesia, sekolah di Surabaya, menjadi seorang kajur. Tuhan membalikkan rencana-rencanaku semudah orang membalikkan telapak tanganNya. Dia seakan menunjukkan kepadaku WHO’S THE REAL BOSS!! Bukan aku, tapi Dia! Geli rasanya kalau membayangkan rencana-rencanaku dulu, yang kurasa sudah tersusun rapi dan sempurna.

Melalui pergumulan ini, aku kembali ‘dihajar’ Tuhan. Siapakah aku ini di hadapanNya? Apakah rencana manusia yang terbatas dibanding rencanaNya yang sempurna? Aku ini bukan apa-apa. Aku hanyalah ciptaan yang harus tunduk pada Pencipta yang berdaulat penuh. Semula aku protes, aku merasa rencanaku terlihat ‘baik’ bagiku. Hei! Sekolah di luar negeri itu suatu hal yang baik bukan? Tapi ternyata Tuhan sudah menyediakan yang terbaik bagiku, dan aku percaya itu. Meski saat ini aku belum bisa melihat jelas apa yang indah di depan sana.

Menjadi seorang kajur sama sekali tidak gampang. Aku masih muda, penuh kelemahan, kekurangan, jauh sekali dari gambaran ideal seorang pemimpin, apalagi pemimpin sebuah jurusan di universitas. Jauh! Aku juga tahu, jalan di depanku tidak akan mulus-mulus saja. Bahkan belum resmi menjabat saja sudah banyak kasak-kusuk yang tidak enak tentangku. “Orang yang rela menukar kesempatan belajar demi sebuah posisi”, itu salah satu cibiran orang :)

Yah, sebagai manusia pasti lebih mudah buatku untuk jatuh. Tapi sudahlah, there’s no point to return. Aku sudah mengalami sendiri pernyataan kedaulatan Tuhan dalam hidupku. Tak ada satupun yang terjadi di dunia ini –bahkan yang terkecil sekalipun- di luar ketetapan Tuhan. Tanggungjawab ini sudah kuemban. Segala risiko, tantangan, dan kesulitan di depan harus siap aku hadapi, bersama Dia tentunya. Satu kalimat yang kupegang, diucapkan oleh Pak Gito –salah satu hamba Tuhan di gerejaku-, “Life is not about proving something, life is about glorifying God.”


So Lord, here i am , Your servant...
I surrender my life in Your sovereignty


Monday, December 14, 2009

Akhirnya hanya kematian...

Hari ini aku sedih sekali.

Tadi siang, seorang mahasiswa mendatangiku, menyodorkan surat pengunduran diri. Tentu aku tidak langsung menandatangani surat itu, aku perlu berbincang dengannya.

"Kenapa mengundurkan diri?"

"Saya sudah tidak punya kemauan untuk kuliah."

Well, pernyataan itu tidak mengagetkanku. Mungkin separuh dari mahasiswaku memang sudah tidak punya lagi niat untuk kuliah. Bukan jawaban itu yang mengiris hatiku. Kami ngobrol lagi...

"Setelah keluar dari kuliah, apa rencanamu?"

"Nggak ada.."

Aku tertegun. Oke, ini bukan pertama kalinya aku menghadapi mahasiswa yang mau mengundurkan diri dari kuliah. Tapi ini untuk pertama kalinya aku menghadapi mahasiswa yang tidak punya rencana apapun untuk masa depannya. Selama ini, mahasiswa yang mau mengundurkan diri setidaknya punya rencana untuk transfer jurusan atau universitas, kerja, pindah kota, dan alasan lain semacam itu. Mendengar jawabannya, aku semakin tertarik untuk mengoreknya.

"Kalau hari ini saya menandatangani surat ini, apa yang akan kamu lakukan besok?"

"Hidup, ikuti arus, bukan menentang arus..."

"Kenapa ikut arus?"

"Karena bagiku hidupku cuma akan berakhir di satu titik. Buat apa susah-susah?"

"Dan titik itu?"

"Kematian..selesai! Case closed!"

"Setelah itu?"

"Nggak ada manusia yang bisa memastikan apa yang terjadi setelah itu."

"Manusia nggak bisa, tapi ada satu yang bisa."

Dia diam, hanya tersenyum kosong...

Aku mulai mengerti, sepertinya topik iman, kepercayaan, harapan, bukan topik yang menarik buatnya. Aku mengalihkan topik pembicaraan, aku bertanya tentang keluarganya, hidupnya...

"Aku nggak mau mengemis untuk hidupku. Aku akan berusaha mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi tidak dengan meminta atau mengemis."

"Kamu tahu bahwa ada satu hal yang tidak layak kita dapatkan, tapi diberikan pada kita? Bahkan tanpa kita memintanya?"

Dia mengangkat alis...

"That's called GRACE."

Dia terdiam sejenak....

"Kamu percaya itu?"

"Nggak!"

Aku terbelalak...

"Jadi, selama kamu hidup 21 tahun ini, jatuh bangun...apa kamu tidak merasa hidupmu adalah anugerah?"

"Nggak. Hidupku adalah perjuanganku...bukan campur tangan siapapun. Kalau aku bisa hidup sampai sekarang, itu usahaku. Anugerah itu nggak ada. Buat apa berpegang pada sesuatu yang tidak kelihatan?"

"Memang bukan kamu yang berpegang, tapi kamu yang dipegang."

Dia tertawa, sambil menggelengkan kepala.

"Kita beda dalam hal ini, Miss. Dan kita tidak akan menemukan titik temu."

Aku terdiam, menghela nafas. Aku shock, hatiku perih.

Pemuda yang duduk di depanku ini terlihat kuat, gagah, tegar. Melihat tawanya yang lebar, orang dia terlihat tak punya masalah. Tapi bagiku, dia bermasalah! Dan masalah yang dimilikinya adalah masalah terbesar manusia, dari dulu, sekarang, dan selamanya.

Aku masih berbicara beberapa saat dengannya, tapi keputusannya tidak berubah. Aku menyuruhnya pulang lagi, membawa surat pengunduran dirinya.

"Kamu bawa lagi, kamu pikirkan lagi. Sementara itu, saya akan berdoa buat kamu."

Dia tersenyum, lalu pamit pulang.

Hatiku teriris. Ada berapa orang lagi, di luar sana, yang belum mengenal anugerah, menolak anugerah, tidak ambil pusing dengan anugerah. Berapa orang lagi (setidaknya di antara mahasiswaku), yang hidup tanpa tujuan, hanya ikut arus, dan berpikir hidupnya hanya berakhir pada kematian?

Ini salah satu pe-erku. Mungkin untuk melihat fakta inilah Tuhan menempatkanku di sini.

Everyday they pass me by
I can see it in their eyes
Empty people filled with care
Headed who knows where
On they go through private pair
Living fear to fear
Laughter hides their silent cries
Only Jesus hears
Chorus:
People need the Lord
People need the Lord
At the end of broken dreams
He's the open door
People need the Lord
People need the Lord
When will they realize
People need the Lord
We are called to take His light
To a world where wrong seems right
What could be too great a cost for
Sharing life with one who's lost
Through His love our hearts can feel
All the grief they bear
They must hear the words of life
Only we can share
-Chorus-

Monday, November 23, 2009

Skripsi dan Kesetiaan Tuhan

"Miss, udah tidur ya? Kangen bimbingan Miss..^^"

Aku tersenyum membaca sms itu. Pengirimnya adalah salah satu mahasiswa skripsi yang kubimbing semester ini.

Kangen bimbingan?? Humm...mungkin banyak orang yang heran membaca pernyataan itu. Kebanyakan mahasiswa akan menghembuskan nafas lega ketika dosen pembimbingnya membubuhkan tanda tangan di lembar pengesahan skripsi mereka. Penderitaan dan sengsara berakhir sudah..skripsi sudah beres. Tapi proses bimbingan dengan beberapa mahasiswaku semester ini memang sungguh unik, dan akhirnya aku harus mengaku: aku pun merindukan masa-masa bimbingan itu!

Minggu lalu adalah minggu terakhir pengerjaan skripsi. Tanggal 20 November adalah batas akhir pengumpulan skripsi dalam semester ini. Yang tidak mengumpulkan tanggal 20 Nov, otomatis harus menunggu sampai semester depan lagi. Semester ini, semua mahasiswa bimbinganku menargetkan diri untuk menyelesaikan skripsi dalam semester ini. So, bisa dibayangkan...minggu lalu adalah minggu paling hectic dalam sejarah kerjaku di UK Petra (lebay nggak ya? hehehe...)

Dari tujuh mahasiswa yang aku bimbing, tiga di antaranya adalah penghuni (bukan lagi pengunjung!) tetap ruanganku selama seminggu kemarin. Aaah...ruanganku tidak lagi layak disebut kantor, tapi lebih cocok dijadikan area camping! Bagaimana tidak? Mereka membawa laptop masing-masing, seabreg buku, segudang makanan (mulai dari makanan ringan, sampai makanan berat), dan menggondol printer serta kabel olor dari rumah! Mau tahu berapa lama mereka ngendon di ruanganku? Sejak pukul 08.00-20.30!! Automatically, keberadaan mereka di ruanganku sekaligus memecahkan rekor jam kerjaku di Petra hahahaha....

Setiap hari bersama mereka, membuatku melihat dan mengenal mereka lebih dalam. Mengamati tingkah laku mereka, dari yang normal hingga yang ajaib! Selama seminggu itu, kami melakukan semuanya bersama. Berjuang bersama, stres bersama, makan bersama, menggila bersama! Sungguh, momen-momen yang tak terlupakan. Kebersamaan yang menciptakan keakraban dan kehangatan. Ketika tanggal 20 November tiba, dan tanda tangan telah kububuhkan, kami semua lega bersama.

Semua berkas skripsi sudah dikumpulkan, penat dan ketegangan sirna sudah. Mereka tinggal menunggu masa sidang...Sekarang semua boleh bernafas lega...Tapi, ada seberkas rasa rindu dan kehilangan yang tertinggal. Memang ruanganku sekarang jadi lebih sepi dan rapi. Tapi aku merindukan kebersamaan bersama mereka. Sebulan yang lalu, aku sempat mengeluh. Kupikir, bimbingan skripsiku semester ini sangatlah berat. Tantangannya begitu besar. Tapi sekarang, aku justru merasa bimbingan skripsiku semester ini sangatlah luar biasa, unforgettable!!

Yang pasti, melalui masa-masa bimbingan skripsi itu, aku diteguhkan akan satu hal: hidup manusia tidak pernah lepas dari proses. Tidak ada yang instan, yang ada pergumulan. Dan lewat pergumulan itulah Tuhan bekerja. Aku yakin, tidak ada satupun mahasiswa yang tidak berdoa untuk skripsi mereka. Aku yakin, setiap malam mereka tak pernah lepas mengucap doa kepada Tuhan. Tapi, apakah esok paginya wuuuuzzz....mereka langsung melihat tujuh rangkap berkas skripsi yang sudah selesai dan terjilid rapi? Tidak kan? Mereka berdoa, tapi Tuhan seolah 'membiarkan' mereka stres, 'membiarkan' mereka menangis, 'membiarkan' mereka jatuh sakit, 'membiarkan' printer ngadat, 'membiarkan' otak blank sehingga tak ada ide, 'membiarkan' dosen pembimbing sulit ditemui. Aaaah...Tuhan seolah 'membiarkan' semua tantangan dan kesulitan datang silih berganti. Apakah itu artinya Tuhan tidak menjawab doa mereka?

Aku yakin Tuhan mendengar setiap doa mereka, dan Ia menjawabnya melalui sebuah proses pergumulan. Proses itu panjang dan berliku. Ada air mata, tapi ada persahabatan. Ada rasa frustrasi, tapi ada penyerahan diri total kepada Tuhan. Tuhan membentuk setiap mahasiswa menjadi pribadi yang tekun, setia, dan setia kawan. Semua berjuang, berusaha menyelesaikan sampai garis akhir. Kalau ada teman yang putus asa, teman yang lain memberi semangat. Semua itu mungkin tak akan pernah muncul, tanpa ada pergumulan berat seperti skripsi.

Aku teringat lagu yang selalu dinyanyikan salah satu mahasiswa bimbinganku:
Tuhan Yesus setia, Dia sahabat kita
Dalam sgala susahku, selalu menghiburku
Dia mengerti bahasa tetesan air mata
Walau badai mengamuk, dan gelombang menerjang
Tuhan Yesus setia...

Apakah kesetiaan Tuhan hanya terbukti saat kita mencapai keberhasilan? Menurutku, kesetiaan Tuhan justru terbukti pada saat kita melewati proses panjang dan berliku.

So friends, setiap kali melewati tantangan atau pergumulan, jangan terburu-buru menganggap Tuhan tidak mendengar doa kalian. Tuhan tidak ingin kalian menjadi manusia serba instan. Tapi percayalah, Tuhan sedang memproses kalian, dan Ia setia menyertai kalian dalam proses itu.

Gbu all ^^